Custom content

Selamat datang di blog Sekolah Tinggi Filsafat "AL-FARABI" Silahkan kirim tulisan anda ke alamat stf.alfarabi@gmail.com

INDONESIA TAHUN 2100

INDONESIA TAHUN 2100[1]
Oleh: Ach Dhofir Zuhry


”...tanpa diperangi pun, negara ini akan hancur
karena orang Indonesia punya bakat luar biasa
untuk menghancurkan diri dan bangsanya sendiri...”
(Mu’allim Tsalits)

”Negara ini sudah seratus tahun lebih menanti hadirnya pemimpin yang tidak lembek, yang sungguh-sungguh serius memakmurkan bumi, benar-benar nasionalistik dan membuktikan patriotismenya dalam berbagai tindakan politik, kebijakan pembangunan, diplomasi dan hubungan bilateral-multilateral, eksistensi kenegaraan, perekonomian dan kebudayaan, bukan malah mempersilahkan tangan-tangan bajak laut, cecunguk, perompak dan bromocorah asing untuk terus-menerus menghegemoni sesuka perut mereka”
”Lama sekali ya, seratus tahun? Apa jadinya negeri kita nanti?”
”Untuk punya pemimpin besar seperti khalifah Umar, mungkin masih butuh seratus atau bahkan beratus-ratus tahun tahun lagi, ketika negari ini sudah tidak lagi bernama
Negara Kesatuan Republik Indonesia”
”Kenapa begitu?”
”Kemungkinan setelah NKRI dipecah-belah dan hanya menyisakan lima atau paling banyak sepuluh provinsi saja, dan kebanyakan menjadi negara bagian Amerika dan Inggris, atau yang paling apes jadi negara bagian Australia, China dan Malaysia”
”Separah itu, Pak? Jangan menakut-nakuti saya yang awam ini!”
”Ya, memang parah! tapi menurutku, dari pada terus-menerus diingusi, dikencingi dan dijadikan boneka mainan Amerika, sekalian saja kita jadi negara bagian Amerika. Kan enak dapat subsidi?”
”Ya ya ya, betul itu, Pak. Lantas?”
”Sebenarnya, pemusnahan dan dehistorisasi negara kita ini sudah dirancang adikuasa lebih dari 135 tahun yang lalu, tepatnya beberapa tahun menjelang Bung Karno wafat, salah satunya kudeta oleh Orde Baru”
”Kenapa Indonesia harus dihancurkan? Siapa di balik itu semua, pak?”
”Siapa di balik itu? siapa lagi kalau bukan maling-maling dan cecunguk-cecunguk asing itu. Alasannya jelas karena Indonesia adalah bangsa yang memiliki sejarah peradaban yang tinggi, ribuan tahun yang lalu, bahkan ketika bangsa-bangsa lain seperti Eropa dan Amerika masih buta aksara dan belum kenal mandi. Kau ingat, 150 tahun sebelum Nabi Muhammad membangun peradaban di Jazirah Arab, Indonesia sudah punya kerajaan Kutai Kertanegara. Itu artinya kita orang sudah berbudaya, jauh ketika bangsa lain masih hidup seperti binatang di hutan belantara”
”O ya? berarti kita...?”
”Ya, tahun 450 M. Pada saat itu, bahkan 500 tahun setelah itupun Eropa dan Amerika masih buta huruf, mereka hidup menggelandang dan semrawut di ceruk-ceruk gua, bebukitan dan gunung-gunung. Kurang lebih seperti manusia Purba-lah”
”Lantas sekarang?”
”Sekarang negara kita sudah tinggal ampas dan keraknya saja, karena semua kekayaan sudah dijual dan diobral murah pada bromocorah dan perompak asing itu. Seratus tahun lagi kita semua akan tenggelam ke perut bumi. Tak usah diperangi, Indonesia akan hancur dengan sendirinya, tentu saja karena orang Indonesia punya bakat yang luar biasa dalam menghancurkan diri dan bangsanya sendiri.”
***


Itulah obrolan pertamaku dengan pak Kiswandi di sebuah pusat perbelanjaan yang kemudian setelah itu kami menjadi karib dan sering bertemu. Aku kurang begitu dengar, Kiswandi apa Biswandi atau Bismandi namanya. Lelaki paruh baya itu adalah narapidana kasus korupsi dana hibah BI, pencucian uang (money laundry), pengalihan dan manipulasi uang negara untuk kampanye Pilpres dan pil-pil yang lain serta masih banyak lagi, hingga saat ini pun masih menjabat sebagai ketua parpol dan beberapa perusahaan raksasa.
Anda masygul dan heran mengapa pak Kiswandi yang sepertinya orang baik-baik bisa tersangkut kasus korupsi? Tak perlu kaget, di dunia ini tak ada yang lebih menipu selain penampilan dan kepolosan. Wajah dan tingkah sangat bisa dipoles: Iblis berwajah Nabi, Setan bertingkah Malaikat. Maka, karena ia mantan menteri keuangan yang konon membiayai kampanye Pilpres, tentunya sang presiden sedikit sungkan dan—karena tuntutan publik—terpaksa menonaktifkan dia dengan sangat terhormat. Sekali lagi Anda akan kaget kenapa seorang narapidana aktif yang masih menjalani masa tahanan bisa asyik belanja di mal? Tenang, tak perlu heran. Sejak awal tahun 2100 kemarin pemerintah mengamandepen KUHP bagi para pejabat dan atau mantan pejabat negara, jika tersangkut kasus hukum, maka kepada mereka hanya diberlakukan tahanan kota. Itu artinya mereka boleh berkeliaran ke mana-mana, yang penting ia tidak meninggalkan kota atau kabur ke luar negeri.
Anda masih heran? Sudahlah, sekali lagi tak perlu mengerutkan dahi, KUHP, yang tertulis memang Kitab Undang-undang Hukum Pidana, tapi praktiknya di mana-mana Kasih Uang Habis Perkara. Amandemen teranyar setelah pemilu 2099 kemarin adalah legalisasi kawin sesama jenis, artinya homo dan lesbi boleh, sementara nikah Sirri tetap dilarang, dengan dalih perlindungan perempuan dan HAM.
Sampai menjelang abad ke-22 ini anggota DPR/MPR digaji Rp 5 Milyar perbulan plus tunjangan sebesar tiga kali lipat gaji dengan fasilitas rumah dan vila, mobil Limusin, pesawat pribadi dan 3 orang isteri muda, termasuk jika yang bersangkutan menginginkan pasangan sesama jenis. Di bidang politik, Indonesia mencaattkan rekor sebagai negara dengan partai politik (parpol) terbanyak. Jumlah parpol lebih dari 1000, dengan kata lain setiap kabupaten dan kota punya parpol sendiri, ini seiring dengan kebijakan otonomi daerah. Kalau dulu tahun 2010 saja Indonesia menjadi negara terkorup se Asia Pasifik, maka jangan heran kalau sekarang jadi negara terkorup se-jagad raya. Prestasi yang sangat fantastis, yang setanpun tidak sanggup melakukan hal itu.
Di bidang  olahraga, Indonesia punya catatan manis sebagai juara Piala Dunia 2098 kemarin, tapi bukan sepak bola lapangan hijau (rumput), melainkan sepak bola lumpur. Dulu tahun 2010 saja lumpur Lapindo luasnya sudah 75 kali lapangan sepak bola, sekarang sudah 7500 kali lapangan bola. Makanya, PSSI sekalian mengajukan mekanisme penyelenggaraan dan regulasi Piala Dunia (sepak bola) lumpur ke FIFA, dan syukurlah, diterima, sekaligus Indonesia jadi tuan rumah. Rupanya Indonesia cukup tahu diri, bahwa untuk bermain bola di lapangan hijau, menghadapi Vietnam saja kalah 4-0, itu terjadi sejak 90 tahun lalu ketika PSSI masih diketuai narapidana kasus Bulog. Lagipula, kalau sepak bola masih nyusu dana APBD tidak akan pernah maju, lebih baik dana APBD digunakan membangun sekolah gratis, seperti SMK kelautan dan perikanan, SMK pertambangan dan mineral, SMK kehutanan, dan sebagainya. Sekarang Alhamdulillah sudah bisa jadi juara dunia sepak bola lumpur, sebab untuk sepak bola lapangan hijau sangat mustahil. Bahkan seandainya Indonesia berlatih terus selama 50 tahun, sementara Brazil dan Italia berhenti bermain bola selama 50 tahun juga, rasanya tisak mungkin menang kalau Indonesia diadu lawan Brazil. Jadi untuk apa kita memaksakan diri ”membeli” gengsi dengan sepak bola?      
Di bidang keamanan, Indonesia dan Malaysia terus berperang memperebutkan perbatasan di Kalaimantan sampai akhirnya Kalimantan Barat dan Timur jatuh ke tangan Malaysia, sekarang tinggal Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, provinsi yang ibukotanya Palangkaraya, yang oleh Bung Karno sempat akan dijadikan ibukota Indonesia, ketika Jakarta hampir seluruhnya tertutup permukaan air laut dan banjir setiap tahunnya. Kalau di paruh kedua abad ke-20 sampai awal abad 21 konflik perbatasan hanya terjadi di jalur Gaza, Kashmir dan Bosnia, maka di awal abad ke-22 ini Indonesia terus dibulan-bulani Malaysia (yang dibantu Inggris) untuk memperlebar wilayahnya, seperti Israel merebut tanah Palestina sejak 150 tahun yang lalu. Sekarang bukan hanya Kalimantan, Irian pun sudah jatuh ke tangan Papua Nugini dan provinsi Nusa Tenggara Timur telah resmi bergabung dengan negara Timor Leste. Selain itu Aceh, Maluku dan Poso resmi merdeka. Indonesia tinggal pulau Jawa, sebagian Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera, karena Bali dan Lombok sudah jadi negara bagian Amerika.
***


Bebarapa minggu menjelang tahun baru 2101 hujan tak kunjung reda siang-malam, langit pekat seakan marah sehabis-habisnya pada bumi yang terluka berabad-abad, mengamuk rumah kami bersama topan dan puting beliung, belum lagi Tsunami, gempa dan longsor. Malam masih memucat, sepucat pikirku yang tak habis pikir dan masygul dengan negeri ini, sepucat kenangan-kenanganku akan negeri yang kaya, bahkan sebegitu kayanya negeri ini sampai-sampai puluhan penjajah antri berjejal-jejal untuk mengeruk negeriku dengan berbagai bentuk hegemoni. Belanda memperkosa, Portugis dan Inggris menebar tangis, Jepang penjahat perang, Amerika semena-mena, Australia begitu juga, dan terakhir Malaysia adalah penjajah dan penjarah nusantara. Khusus Malaysia, mereka juga penjarah sejarah dan maling kebudayaan yang terang-terangan meludahi kepala orang-orang Indonesia.
Tahun 2100 ini adalah tahun yang paling tidak menyenangkan bagiku. Sampai memasuki awal tahun 2101 pun aku merasa bahwa tahun depan dan entah sampai beberapa tahun yang akan datang sepertinya akan terus kurang bersahabat, karena memang sudah lima tahun terakhir hujan turun tanpa henti hampir sepanjang hari.
Aku kadang merasa aku adalah generasi yang terlambat lahir, mestinya aku dilahirkan bersama sejarah awal berdirinya negeri ini. Tapi sudahlah, tak ada yang indah dan merdu selain syukur, sekurang-kurangnya kini nusantaraku—kalau masih pantas disebut nusantara—sudah berusia 155 tahun. Sebuah usia yang mestinya sejajar dengan tingginya peradaban dan pencapaian-pencapaian monumental di dunia internasional. Namun apa yang terjadi? Peniti dan korekan kuping (cutton bud) saja kita impor dari China, apalagi kendaraan dan alat-alat elektronik. Bahkan, Indonesia sudah tidak punya identitas, karena kebudayaan juga impor dari luar begeri.  
Tahun yang hambar, lebih tepatnya, ratusan tahun yang sangat hambar dan benar-benar ketar, kegelisahan melingkar, kesedihan terus menjalar, kegilaan manusia berpendar-pendar, aku hanya gemetar setiap ingat betapa manusia kepada agama dan moralitas telah jauh ingkar. Itulah kenapa di negeriku tak ada penyakit yang tak menular. Bukan hanya HIV dan Flu Tikus, sakit pilek, batuk, migran, stress, rasa malas dan foya-foya pun sudah menular ke kampungku. Namun demikian angka kamatian tertinggi—karena bunuh diri—di Indonesia masih disebabkan oleh PHK, kegagalan menajdi anggota legislatif dan PNS. Belakangan mesin pembunuh yang tak kalah kejam adalah LPG, sepeda motor dan rokok. Karena alasan itu pula, aku berhenti menjadi PNS, berhenti naik motor, berhenti merokok, dan berhenti menggunakan LPG Pertamina, sekalipun dipaksa oleh pemerintah.  
”Mau makan apa kita?”, tanya isteriku, ”ratusan juta orang antre ingin jadi PNS, bapak malah berhenti. Apa jeleknya jadi PNS rendahan? Biarlah gaji pas-pasan, yang penting ada jaminan di hari tua ketika pensiun”
Aku sengaja tak menjawab celoteh isteriku. Terpikir olehku jadi tukang parkir di mal depan rumah saja, gajinya lebih besar dan jelas-jelas tidak ada potensi untuk korupsi. Ya, dalam lima tahun terakhir berpuluh-puluh mal dan pusat perbelanjaan memang sengaja didatangkan oleh tangan kuasa untuk menutupi seluruh sawah dan pekarangan di kampung kami.
Alat-alat berat, buldozer, mesin-mesin canggih dan pekerja-pekerja yang terbuat dari besi dan baja tak pernah berhenti berdentum siang-malam. Aku masih ingat betapa kebun warisan nenek aku jual untuk menyuap petinggi-petinggi DPRD agar aku diterima jadi PNS—sekalipun dalam praktiknya jadi tukang sapu, bahasa keren-nya Cleaning Service—delapan tahun lalu. Apa boleh buat? sekarang zaman PNS, yang penting santai, senang dulu baru susah kemudian. Biarlah anak-cucu yang sengsara membayar hutang negara.   
Di bekas kebun itu, campuran kasar berupa beton dan cor yang terdiri dari semen, pasir dan kerikil terus menghantam keras-keras, tidak hanya ke tanah, tapi juga ke dada dan kepalaku, hari demi hari. Kebun itu direnggut paksa jatidirinya, diputus masa lalunya yang subur-gembur. Semua kehilangan masa lalu dan sejarahnya: ribuan ton pasir digerus dari sungainya, ribuan ton kerikil dihancurkan dari kesatuan batunya, jutaan sak semen diperas dari bumi. Mal-mal dan gedung-gedung congkak itu menutup semua energi hidup yang dulu tumbuh hijau di kebunku. Aku menyesal, sangat menyesal, bahkan ketika nenek meninggal, meniggalkan kesedihan pada semua yang ditinggal, arwahnya pun tidak akan tenang melihat kenyataan ini.
***

           
”Lo, kenapa tidak masuk kerja?”, tanya pak Kiswandi sambil nyeruput kopi. Pagi itu kami tanpa sengaja bertemu di jalan. Dia lantas mengajakku ke rumahnya.  
            ”Saya berhenti jadi PNS”
            ”Lo, kok aneh? Kenapa?”
            ”Sudahlah, Pak. Saya sedang benci dengan kata-kata ’kenapa’. Istri saya tiap hari ratusan kali bertanya kenapa”
            ”Kalau begitu, pertanyaan saya ganti: ada apa dengan PNS, kok berhenti?”
            ”Malas, saya nyogok ratusan juta dulu sampai jual kebun, kok cuma jadi tukang sapu di gedung Dewan, delapan tahun lamanya”
            ”Saya juga tidak habis pikir kenapa ratusan juta orang berbondong-bondong jadi PNS. Ingatlah, alam raya ini adalah satu sistem kesatuan dan kerjasama. Kita memang perlu batu dan bata untuk membangun rumah, itu saja tidak cukup, mesti ada besi, cor, paku, harus ada kayu yang sudah ditanam puluhan atau bahkan ratusan tahun, harus ada genteng yang sudah dibakar sekian waktu, harus ada isi dan perabot rumah yang sudah dipermak, harus ada pintu dan jendela fentilasi. Untuk menguji penghuninya rajin bersih-bersih atau tidak, kita sangat perlu tikus, kecoa dan coro. Untuk mengetahui seberapa tangguh rumah kita, perlu gempa, longsor, banjir dan puting beliung untuk menguji”
            ”Maksudnya apa itu, Pak?”
            ”Kita hidup berbangsa bernegara ini tidak hanya butuh negarawan, (poli)tikus, birokrat, teknokrat, ilmuwan, seniman, penyair, ulama dan pastor, tapi negara ini juga perlu koruptor, bromocorah dan mafia-mafia untuk menguji seberapa tangguh negara ini dapat menghadapi masalah!”
Pak Kiswandi terlihat sangat bersemangat menyampaikan pikiran-pikirannya. Aku hanya terdiam sesekali sambil manggut-manggut, aku mencoba mencerna kata-kata itu, batinku berujar, jangan-jangan itulah alasan mengapa pak Kiswandi jadi mafia negara dan mengemplang uang rakyat.
”Makanya jadi PNS pun harus pilih-pilih, ya memang kalau umpannya kecil, ikannya juga kecil”, ia melanjutkan  
”Betul itu, Pak. Kalau yang penting PNS, akhirnya cuma jadi tukang fotocopy dan tukang cuci, seperti saya ini, Pak”
”Gajimu berapa?”, tanya pak Kiswandi
”Dua puluh juta, pak!”
”Apa?!, di tahun 2100 ini uang dua puluh juta dapat apa? naik taksi sepuluh menit saja sudah Rp. 500.000, minum kopi di warung kecil saja Rp. 100.000,- Sekarang kurs Dollar Rp. 199.025, itu artinya gaji kamu cuama 100 Dollar perbulan. PNS macam apa itu? Pantaslah jika seratus tahun ini setengah penduduk Indonesia lebih betah tinggal di luar negeri sebagai TKI, TKW, dan setengahnya lagi berebut jadi PNS, macam kamu ini”
”Ya, begitulah, Pak”     
”Begini saja, kamu jadi satpam di perusahaan saya, gajinya sepuluh kali lipat dari pada jadi PNS, mau?”
”Pasti saya mau, terima kasih banyak, Pak. Tapi jadi satpam zaman sekarang kan harus lulusan S-2 dan bersertifikat Toefl, bagaimana, Pak?”, aku girang sekali mendengar tawaran itu. Biarlah satpam, yang penting anak-isteri tak kurang makan.
”Alaah, gitu saja kok bingung. Jangan pura-pura tidak tahu! Sekarang ijazah sarjana sampai doktoral dijual murah di warung-warung kopi. Untuk mendapatkanya bahkan jauh lebih mudah dari pada membeli pulsa elektrik, bahkan pedagang asongan di terminal dan stasiun pun menjual-obral.”
”Ya, ya, Pak. Maksud saya itu. Zaman sekarang mana ada yang asli, hehehe”
”Besok kamu mulai bekerja.”
***


Tiga pekan aku bekerja di perusahaan pak Kiswandi, kami sekeluarga mendapat voucher liburan gratis. Malam hari tanggal 31 Desember 2100 tidak biasanya anak kedua kami yang masih balita menangis malam-malam, mungkin tidurnya tak nyenyak lantaran dua hari ini kami sekeluarga menikmati liburan tahun baru di Bali (yang saat ini sudah menjadi luar negeri), atau mungkin gara-gara suara gaduh dan gegap-gempita perayaan tahun baru. Beberapa menit kemudian setelah diganti popok, isteriku menidurkannya lagi.
Di luar rumah, sekalipun hujan rintik menggerimis tidak benar-benar reda, namun bunyi petasan saling bersahutan dengan suara terompet dan teriakan histeris muda-mudi menyambut datangnya abad ke-22. Entahlah, sepertinya orang-orang terlalu berharap banyak  pada tahun 2101. Hal ini sangat wajar karena Indonesia sejak merdeka hingga 155 tahun kemudian masih menyandang status negara dengan mutu pendidikan terendah di bawah Timor Leste. Dengan kata lain, Indonesia adalah negara tergoblok se-jagad raya. Namun aku tak bergeming, aku tak tahu apakah harus bergembira bersama mereka di luar sana, sementara di dalam hati tangisan ibu pertiwi berdentum melebihi suara mercon. Hanya tarikan nafas panjang yang menemaniku malam itu. Entahlah kenapa aku justru susah tidur di hotel bintang tujuh?
Aku lepas kaca mata lalu duduk di sofa ruang tengah, tanpa sengaja tangan kiriku memencet remote control dan televisi pun menyala, dan, astaga, betapa kagetnya ketika tayangan TV bukan seputar perayaan tahun baru, tapi tentang kabupaten Sidoarjo, kota Surabaya dan Gersik yang sudah tenggelam oleh lumpur Lapindo. Diberitakan bahwa dalam beberapa jam pada malam itu juga kota-kota tersebut sudah menyatu dengan laut Jawa. Hanya monumen Lapindo setinggi 900 meter yang masih terlihat setengah, monumen itu dibangun sejak 2095 dan akan diresmikan tahun 2105 yang akan datang untuk memperingati 100 tahun tragedi lumpur Lapindo.
Aku termangu, lalu tanpa sengaja berteriak, berteriak lagi dan lagi dengan setengah membentak aku panggil isteriku, ”Bu, cepat, cepat kemari!”.
”Ya, ya, Pak, sebentar! Ada apa sih?”, isteriku sampai tergopoh-gopoh sambil merapikan baju
Ini bukan soal kota-kota dan kabupaten yang tenggelam ke laut Jawa, aku jelas prihatin, itu pasti, siapa yang tidak menangis negerinya tenggelam ke dasar laut? Tapi lebih memprihatinkan lagi karena mulai malam itu juga bisa dipastikan aku kehilangan rumah dan pekerjaanku, karena perusahaan tempat aku bekerja adalah PT. Lapindo Brantas.   
***

Perth, Australia 2006 – Malang 2010


[1] Cerpen ini adalah satu dari 15 Cerpen dalam kumpulan Para Nabi Dalam Botol Anggur (Intrans Publishing, 2011)

2 komentar:

  1. mantab ceritanya penuh dengan makna filosofis dan kritikan

    BalasHapus